Minggu, Agustus 26, 2007

Amarah dengan Segala Atributnya

Pembaca Yang Budiman,

Itu bukan salahku dan itu salahmu. Kata-kata itu sering kita dengar dalam pengamatan hidup sehari-hari. Inilah pemicu timbulnya amarah. Amarah karena merasa diri benar, kondisi seperti inilah yang memantapkan kesadaran yang hampir-hampir mencekik, tentang diri sang aku dengan orang lain. Amarah sungguh merupakan kondisi yang menyedihkan, sebab itu berartinya matinya kemungkinan cinta kasih atau keterhubungan di saat itu. Tetapi apakah yang dapat kita perbuat ketika kita merasa marah atau bersikap menghindar?

Ada kebingungan dalam masyarakat modern tentang bagaimana caranya memahami sikap menghindar. Sulit dipahami perbedaan antara merasa marah dengan melampiaskan amarah. Ketika kita menjalani suatu praktek spiritual, penting kita membuka diri terhadap segala yang timbul, penting kita sadari, kita akui, dan kita terima segala yang kita rasakan. Lama sekali kita terkondisikan dengan sikap menipu diri sendiri, dengan menjaga hal-hal tertentu tetap di luar kesadaran kita, dengan menekannya dan menutupi dengan rapat.

Mengatasi penyangkalan ini dan membuka diri terhadap kondisi-kondisi sikap menghindar, bisa sangat menyembuhkan. Tetapi dalam prosesnya mungkin saja kita harus membayar harga berupa sesat dalam amarah kalau lewat kesalah pahaman, kita malah bergelimang di dalamnya.

Kebanyakan hasil penelitian pada umumnya, bahwa ketika seseorang cukup sering mengekspresikan amarahnya dalam kehidupannya, itu menuntun kepada sikap mudah marah. Mengekspresikan kemarahan menjadi kebiasaan. Banyak orang yang mengasumsikan kita mempunyai sejumlah marah di dalam diri kita,dan kalau kita tidak mau menyimpannya, kita harus mengeluarkannya, entah bagaimana kalau amarah itu sudah ke luar, ia tak akan berada di dalam lagi. Amarah merupakan sesuatu yang padat. Padahal kalau kita amati dengan seksama, ternyata amarah itu bukan sesuatu yang padat. Ia hanya respon yang terkondisikan yang timbul dan menghilang. Penting kita lihat bahwa, kalau kita hubungkan kondisi-kondisi yang datang dan pergi ini sebagai sesuatu yang padat, dengan siapa kita sesungguhnya, kita membiarkan kondisi tersebut menguasai kita, dan kita terdorong untuk bertindak dengan cara-cara melukai diri sendiri maupun sesama kita.

Keterbukaan kita hendaknya didasarkan pada sikap tidak menghubungkan. Mengenali sikap amarah atau menghindar dalam pikiran kita sebagai sementara sifatnya, adalah sangat berbeda dibandingkan dengan menghubungkan semuanya itu dengan siapa kita sesungguhnya, lalu bagaimana menidak lanjutinya.

Amarah adalah emosi yang sangat komplek, dengan banyak sekali komponen yang berbeda-beda. Ada kekecewaan, ada ketakutan, ada kesedihan, semuanya menjadi satu. Kalau emosi-emosi dan pikiran-pikiran itu dianggap sesuatu yang utuh, amarah itu tampaknya sesuatu yang padat. Tetapi kalau kita jabarkan dan kita lihat berbagai aspeknya, dapat kita lihat sifat yang hakiki dari pengalaman ini. Dapat kita lihat bahwa amarah itu tidak permanen sifatnya, dan ia timbul dan menghilang seperti gelombang yang datang dan pergi.

Dapat kita lihat amarah itu tidak memuaskan dan tidak dapat membawa sukacita, kebahagiaan dan kedamaian yang langgeng bagi kita. Dapat kita lihat bahwa amarah itu kosong dari diri yang menentukannya, ia bukanlah timbul menurut kehendak kita, rengekan kita atau keinginan kita. Ia timbul ketika kondisi-kondisinya tepat baginya untuk timbul. Dapat kita lihat ia bukanlah punya kita, kita tidak memilikinya, dan kita tidak menguasainya. Kita hanya dapat belajar menanggapinya dengan cara yang terampil dan bijaksana.

Demikian, semoga bermakna

Batam, 26 Agustus 2007

I WAYAN CATRA YASA

0 komentar: