Pembaca Yang Budiman,
Seorang pemimpin wajib mempunyai landasan dalam menjalankan kepemerintahannya, salah satu diantaranya adalah ASTA BRATA. Pada jaman dahulu Asta Brata selalu menjadi pegangan bagi Raja-raja yang sedang bertahta. Sampai saat ini Asta Brata kita jumpai di Keraton Surakarta Hadiningrat Solo.
Pembangunan Keraton Surakarta dibangun secara bertahap, tiap raja yang memerintah sesudah Paku Buwono II mengganti, menambah, atau mengubah bangunan yang dirasa kurang cocok, disamping menambah beberapa perlengkapan yang belum ada.
Panggung Songgo Buwono dibangun oleh Raja Paku Buwono ke III terletak di dalam komplek keraton serta berdekatan dengan kori Sri Manganti. Pendirian Panggung Songgo Buwono bersamaan dengan pembangunan Kori Brojonolo dan Kori Sari Manganti. Panggung Songgo Buwono ditandai dengan Niti Mangsa yang menjadi Tetengger atau tanda Sengkala yang terdapat di bagian atas bangunan tersebut sebagai “Nogo Muluk Tinitahan Jamna”, disamping itu pada bagian atap terdapat hiasan “ Nogo/ular” dinaiki manusia, Sekala tulisan Jawa tersebut berarti “ Nogo = 8, Muluk = 0, Nitih = 7, Jamna/manusia = 1, angka terkumpul adalah 8071 akan tetapi untuk dapat dipergunakan sebagai angka petunjuk tahun susunan tadi harus dibalik menjadi 1708 tahun Jawa atau 1782 tahun Masehi. Nama Panggung Songgo Buwono tersebut juga merupakan suatu Candra Sengkala tersendiri, yaitu : Panggung = 8, duwur = 0, sanga = 7, buwono = 1 sehingga didapatkan 8071 dan harus dibalik jika dipergunakan sebagai angka petunjuk tahun, yaitu 1708 Jawa atau tahun Masehi 1782 Masehi.
Panggung Songgo Buwono merupakan penggambaran dari 8 sifat utama yang harus dimiliki oleh seorang raja yang berkuasa agar dapat menjalankan pemerintahan secara baik. Kedelapan sifat utama itu yang harus dimiliki oleh seorang raja. Istilah tersebut terkenal sebagai ASTA BRATA yang merupakan suatu ajaran dari Prabhu Ramawijaya kepada Baratha sebelum diwisuda menjadi raja. Asta Brata merupakan 8 pedoman pokok yang sangat ideal bagi raja yang berkuasa.
Kedelapan ajaran utama tersebut adalah :
- Watak Matahari : matahari mempunyai sifat panas dan berfungsi sebagai pemberi sarana kehidupan. Seseorang raja/pemimpin harus dapat berfungsi sebagai matahari yang dapat memberikan semangat dan kehidupan bagi rakyatnya.
- Watak Bulan : bulan berwujud indah serta menerangi dalam kegelapan. Seorang raja/pemimpin harus dapat berfungsi seperti bulan yaitu memberi penerangan serta dapat membimbing rakyatnya yang berada dalam kegelapan.
- Watak Bintang : Bintang mempunyai bentuk yang manis serta dapat menjadi pedoman bagi mereka yang kehilangan arah. Dalam hal ini raja/pemimpin harus dapat berfungsi sebagai contoh/tauladan serta menjadi panutan bagi masyarakat.
- Watak Angin : angin bersifat mengisi ruangan kosong. Seorang raja/pemimpin harus dapat bertindak secara teliti dan bijaksana disamping harus dapat menyelami kehidupan masyarakat.
- Watak Mendung : mendung merupakan sifat menakutkan, akan tetapi bila hujan telah turun dapat bermanfaat bagi masyarakat. Seorang raja/pemimpin harus dapat berwibawa kepada rakyatnya.
- Watak Api : api mempunyai sifat tegak serta dapat membakar apa saja. Seorang raja/pemimpin harus dapat bertindak adil, mempunyai prinsip disiplin, tegas dalam bertindak.
- Watak Samudra : samudra bersifat luas dan mampu menampung segala macam bentuk isi. Seorang raja/pemimpin harus memiliki pandangan yang luas serta sanggup menerima segala macam persoalan.
- Watak Bumi : bumi memiliki sifat suci serta sentosa. Dalam hal ini seorang raja/pemimpin harus mempunyai sifat jujur, berbuat luhur serta memberi anugrah kepada siapa saja yang telah berjasa kepada Negara.
Demikian semoga berguna
Batam, 16 Agustus 2007
I WAYAN CATRA AYASA
0 komentar:
Poskan Komentar