Minggu, Agustus 26, 2007

Pendeta Yang Egois, Tuhan menghancurkannya.

Pembaca Yang Budiman,

Tersebutlah seorang pendeta yang menanami kebun dengan bunga-bunga dan pohon buah-buahan. Meskipun dia seorang pendeta, ia masih mempunyai rasa keakuan yang kuat. Jika rasa keakuan yang berkembang, kedengkianpun bercokol. Bila keakuan dan kedengkian muncul, kebencian dengan sendirinya akan bergabung. Tuhan melihat bahwa orang yang berjubah putih ini telah menaruh racun dalam hatinya.

Tuhan ingin memperbaikinya dan memberi pelajaran. Tuhan menyamar sebagai seorang Brahmana tua dan datang ke kebun itu. Brahmana tua mendekati pohon yang baru saja ditanam dan memuji-muji keindahan bentuk pohon itu. Ia berkata, “Siapakah yang menanam pohon yang indah ini?”. Pendeta itu datang dan berkata, “Oh Brahmana sayalah mengurus seluruh kebun ini. Saya yang menanam pohon ini dan pohon-pohon lainnya. Dengan usaha saya sendiri, saya buat jalan setapak yang menyenangkan ini dan saya tanam dan saya pelihara kebun yang indah ini. Saya sendiri yang mengurus segala-galanya. Tidak ada tukang kebun. Saya yang mengambil air. Saya sendiri memberi pupuk. Saya menyiangi rumput dan membasmi hamanya. Saya membersihkan jalannya. Saya mengatur semua bunga yang indah ini serta pohon-pohon buah-buahan, dan itu semua hanya untuk membahagiakan orang lain.” Dengan begitu, ia terus mengulang kata, “ Saya,… saya,… Saya,… saya “.

Setelah mendengarkan semuanya ini sang Brahmana meninggalkan kebun. Tidak lama kemudian ada seekor sapi masuk ke kebun. Sapi itu amat lemah dan hampir jatuh dan menimpa tanaman. Pendeta melihat bahwa sapi ini akan merusak kebun, lalu ia mengambil kayu dan melempar sapi itu untuk mengusirnya. Akan tetapi begitu kayu itu mengenai sapi, sapi itu lalu roboh dan mati. Pendeta sangat terkejut karena sekarang ia harus menanggung dosa membunuh sapi. Tak lama kemudian Brahmana tua tadi datang lagi ke kebun. Sementara ia berjalan di dekat sapi, ia melihat sapi mati itu dan bertanya, “Siapa yang membunuh sapi ini? Siapa yang berbuat seganas ini?” Karena Pendeta tidak langsung menjawab, brahmana berkata lebih tegas, “katakan tahukah engkau siapa yang membunuh sapi ini?”. Pendeta menjawab, sudah tentu kehendak Tuhan. Tanpa kehendak Tuhan, mungkinkah ia terbunuh seperti itu?. Kalau tidak ditakdirkan mati, masakan ia jatuh dan mati karena kena kayu sekecil itu?.

Setelah mendengar jawaban Pendeta, sang Brahmana berkata, “ tadi engkau mengatakan bahwa engkau sendiri yang bertanggung jawab mengurus seluruh kebun ini, engkau sendiri yang menanam semua tanaman dan membuat jalan. Engkau menerima pujian atas segala yang baik yang terjadi di sini, tetapi giliran yang tidak baik yang engkau salahkan adalah Tuhan. Engkau orang yang egois bahkan engkau dengki kepada Tuhan sendiri. Aku datang untuk menghacurkan rasa egoismu.

Demikian, semoga bermakna

Batam, 25 Agustus 2007

I WAYAN CATRA YASA

0 komentar: